Langsung ke konten utama

Postingan

Menelisik surat Cinta-Nya dibalik Pandemi Covid-19

Foto ini diambil di Kampung Toga, Sumedang, tepatnya di bukit tempat Paralayang. Saat itu sekitar pertengahan bulan Februari, sebelum "Negara Api Menyerang". Ya, saat itu semua masih baik-baik saja. Walaupun sudah ada pertanda "serangan", semua masih dapat berjalan normal. Berpergian, menghirup udara segara, menikmati panorama alam, it's possible . Namun semua berubah total saat ini. Kamu bisa memilih untuk berwisata dan berpergian, namun jika melakukannya berarti mengakui bahwa kamu adalah orang yang egois. Karena saat ini pemerintah Indonesia sudah memberlakukan Lockdown alias karantina wilayah yang melarang orang-orang untuk berpergian dan dianjurkan untuk berdiam diri di rumah. Bahkan saat ini social distancing atau menjaga jarak dengan orang lain dan menghindari kerumunan harus dilakukan. Well... ada apakah gerangan? Mengapa dunia jadi seperti penjara dan orang-orang seolah tahanan rumahan? Bukan tanpa sebab, karena tidak mungkin ada asap bil...

Suntikan Manis dari Sebuah Kenangan

Setiap orang pasti memiliki masa indah yang ingin selalu dikenang. Saking indahnya, seringkali berharap waktu akan terulang kembali. Sebuah kemustahilan memang, karena waktu tidak pernah berbaik hati memberikan kesempatan kedua. Karena itu, satu-satunya cara adalah menghadirkan mereka yang ada di masa lalumu untuk kembali hadir. Tak peduli berapa lama bertemu mereka, walau sedetik sudah cukup memberikan suntikan manis untuk meneruskan hidup. Mungkin itulah gambaran dari diriku yang akhir-akhir ini begitu merindukan masa sekolahku. Penatnya dunia kerja dan beban orang dewasa rasanya hilang, setiap kali melihat potret kenangan di masa itu. Apalagi ketika melewati tempat-tempat penuh kenangan bersama mereka dulu, rasanya akan seperti memutar film yang membuat hati kembali menghangat.  Allah Maha memahami manusia yang akan merindukan jejak-jejak kehidupan yang telah ditinggalkan. Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk sering bersilaturahmi, agar hubungan yang terputus karena j...

Lihat realita, bukan hanya ilusi semata

Satu hal didunia ini yang tidak pernah kembali, yaitu waktu. Meski satu detik, waktu tidak akan pernah bersedia untuk mengulang kembali. Oleh karena itu, banyak kata mutiara ataupun dalil yang menguraikan tentang betapa berharganya waktu untuk terus mengingatkan manusia. Salah satunya dalam surat Al-Asr ayat 1-3 yang dengan tegasnya mengingatkan manusia untuk memanfaatkan waktu agar terhindar dari kerugian. Imam Syafii juga sudah memberikan nasehat “jika kamu tidak disibukkan dengan kebenaran, maka kamu akan disibukkan dengan kebatilan.” Selain itu, waktu juga sering disamakan dengan pedang dan uang agar manusia mengerti betapa berharga nilainya. Namun, apakah semua itu benar-benar ampuh untuk mengingatkan manusia tentang waktu? Sebagian iya, sebagian lainnya mungkin tidak. Jika kamu bertanya aku termasuk yang mana, maka ku akui aku termasuk yang tidak. Karena itulah alasan ku mengapa malam ini jemariku kembali menari diatas keyboard dan menyajikannya kepadamu. Aku tidak ingin lu...

SELAMAT DATANG, DUHAI TAMU AGUNG

Malam ini aku masih terjaga, memaksakan diri untuk merenung sejenak. Sejujurnya mata sudah mulai mengajak menutup hari, namun hati masih belum dapat berdamai karena sesak akan sesuatu. Sesuatu itu, harus ku selesaikan sebelum lupa dan membuat hati kembali membeku. Sesuatu untuk menyiapkan diri menyambut tamu agung yang akan datang mulai esok hari. Jika tidak, tamu yang agung itu akan ku sia-siakan seperti tahun-tahun sebelumnya karena tidak punya pertahanan diri dari sergapan kesibukan dunia. Tamu agung itu hanya datang sebulan selama setahun. Semua insan sangat merindukan kehadirannya karena ia memiliki kemuliaan didalamnya. Kemuliaan yang sangat disayangkan jika dibiarkan berlalu begitu saja. Namun aku takut, euforiaku untuk menyambutmu akan semakin turun dari tahun ke tahun. Karena setelah engkau pergi, disetiap tahunnya aku baru menyadari betapa banyak kekuranganku untuk menjamu mu. Di pertambahan usia duniaku, yang sebenarnya adalah pengurangan jatah hidupku, justru aku semak...

Please… Jangan Baper !

           Kata orang, tidak ada yang namanya persabahatan sejati antara seorang perempuan dan seorang laki-laki. Dalam kata “persahabatan” itu, ada rasa lebih yang terkandung didalamnya. Karena mustahil kedekatan dapat terjalin tanpa getaran cinta didalamnya. Benarkah? Mungkin cerita dibawah ini dapat memberikan sedikit jawaban. *** “Rin…. tuh liat Dani ngeliatin kamu aja.”            “Iya tuh Rin, tatapan penuh arti gitu. Kalian kan deket, jangan-jangan Dani ada rasa sama kamu?”             “Ah, masa sih An, Er?” tanyaku setelah mendengar ucapan dua sahabatku, Anti dan Erni.             “Iya, coba kamu lirik deh.” Tambah Anti semakin memprovokasiku untuk melihat apa yang menjadi objek perhatian kedua temanku itu.         ...

Jodoh... Semoga lancar OTW nya

Hari Raya sebentar lagi tiba. Kumandang kemenangan akan menggema, bersorak menyambut hari bahagia setelah sebulan lamanya menempa diri. Namun... dibalik kebahagiaan itu... adakah hal yang masih membuatmu khawatir saat menghadapinya? Hehe.. Anak kecil yang penuh kepolosan akan mengkhawatirkan jumlah baju baru yang dia punya untuk dipamerkan dihari raya. "Bajunya banyak ga dibandingkan  temanku yang lain?" mungkin hanya itu pertanyaan yang terlintas. Berbeda dengan anak yang baru menginjak sekolah dasar. Ia akan sibuk menghayal tentang jumlah THR yang akan ia terima. Mungkin sejak saat ini ia sudah membidik target yang akan didatangi di hari raya. Hehe... Anak SMP yang mulai beranjak remaja akan lebih kompleks lagi pemikirannya. Mungkin sudah mulai ditanya, "Kemarin dibagi raport dapet rangking berapa? Ada yang kebakaran nilainya?". Ya... terkadang silaturahmi keluarga sekaligus jadi ajang "pamer" sang buah hati. Syukur jika dapat nilai memuaskan, jik...

“Cermin, bangunkan aku!”

Kau ibarat pedang bermata dua. Satu sisi yang kau miliki begitu bermanfaat untuk memberikan kesempatan melakukan banyak hal. Namun, jika salah digunakan, kau ibarat senjata yang memakan tuannya. Kau adalah waktu. Meskipun aku sudah tahu tentang dua sisimu tersebut, tetap saja aku masih sering terjebak oleh tipu muslihatmu. Seringkali kau membuatku terlena hingga aku lupa entah sampai kapan Dia mengijinkanku untuk menikmatimu. Kesenanganmu didunia seringkali menyilaukan mata, sehingga membuatku lalai menggunakanmu untuk bekal di akhirat kelak. Tahun ini sudah hampir ¼ abad aku menikmatimu. Kamu tahu apa yang sudah aku lakukan selama itu? Kesempatan yang Allah berikan untuk menikmati kebersamaan denganmu hanya kugunakan untuk kesenangan semu. Setiap hari yang berlalu hanya kuisi untuk memikirkan diriku sendiri. Aku semakin larut dalam fantasi semu. Semua isi pikiran semakin penuh oleh nafsu dunia yang semakin kukejar justru semakin tak berujung. Bahkan saking lekatnya kebers...