Langsung ke konten utama

Untung dan Rugi Menurut Timbangan Allah

 
      Setiap orang pasti selalu  menginginkan keuntungan dan berusaha untuk menghindari kerugian. Hal itu sudah menjadi kodrat yang Allah ciptakan didalam perasaan setiap manusia. Namun, tidak semua manusia memahami makna untung dan rugi berdasarkan ukuran Allah. Manusia seringkali hanya menggunakan penilaiannya sendiri untuk menilai sesuatu menguntungkan atau merugikan. Contohnya ketika kita dilanda musibah yang membuat menderita. Musibah seringkali diidentikan dengan kerugian. Padahal menurut penilaian Allah, musibah itu memberikan keuntungan bagi manusia itu sendiri. Diantaranya adalah manusia dapat bermuhasabah diri agar belajar untuk mensucikan hati kembali, karena orang yang beruntung menurut Allah adalah orang yang senantiasa mensucikan hatinya.
    Didalam surah Al-Mu'minun (ayat 2, 3, 4, 5, 8 dan 9)   kita dapat menemukan siapa saja orang-orang yang dapat dikatakan beruntung menurut Allah Swt, yaitu:
(1). Orang-orang  yang khusyuk dalam shalat
(2). Orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna
(3). Orang-orang yang menunaikan zakat
(4). Orang-orang yang menjaga kemaluannya
(5) Orang-orang yang memlihara amanat-amanat yang dipikulnya dan janjinya, dan
(6) Orang-orang yang memlihara shalatnya
    Selain itu, golongan orang yang tidak akan merugi juga dapat ditemukan dalam surah Al-Asr'. Imam Syafii' mengatakan bahwa dengan memahami surah Al-Asr' itu sudah cukup meghindarkan kita agar tidak termasuk orang yang rugi. Apabila dijabarkan, di dalam surah Al-Asr' yang termasuk golongan orang yang tidak akan rugi adalah:
a. Orang yang punya iman
b. Menggunakan waktu menjadi amal soleh
c. Saling mewasiati dalam kebenaran
d. Saling mewasiati dalam kesabaran
    Orang yang punya iman pasti mempunyai ilmu, karena iman yang ia miliki tumbuh dari hasil pemahaman dan pemikiran yang telah ia dapatkan. Ilmu adalah pupuknya iman. Oleh karena itu, umat Islam sangat dianjurkan untuk mencari ilmu sebanyak mungkin agar menjadi orang yang banyak tahu dan dapat menyampaikan sesuatu dengan benar dan jelas dalilnya, tidak asal bunyi. Hadirilah majelis-majelis ilmu yang dapat menambah pengetahuan kita. Pahamilah ilmu yang kita dapatkan, dakwahkanlah kembali ilmu yang telah kita miliki dan bersabarlah dalam mengamalkan kebenaran yang kita sebarkan dengan ilmu tersebut.
    Setiap orang memiliki jatah waktu yang sama, yaitu 24 jam. Namun, setiap orang memiliki caranya sendiri untuk mengisi waktu tersebut. Sehingga, ada orang yang dengan 24 jam itu dapat sukses, bahagia dan merasa tentram, ada juga orang yang memiliki waktu yang sama hidupnya terasa kacau, kegagalan terus menghantui dan selalu diliputi oleh katakutan sehingga jauh dari tentram. Sebenarnya, masalah utamanya bukan terletak pada seberapa banyak waktu yang tersedia tapi bagaimana cara mengisi waktu tersebut. Mudah saja untuk mengetahui bagaimana kehidupan kita kelak di masa depan. Lihat saja apa yang kita lakukan saat ini. Masa depan kita berbanding lurus dengan apa yang kita lakukan saat ini. Oleh karena itu, Islam sangat menganjurkan umatnya untuk memanfaatkan waktu dengan mengerjakan amal soleh agar tidak menjadi orang yang merugi.
    Sesama muslim kita harus senantiasa berdakwah di jalan kebenaran untuk menyebarkan ajaran Islam. Seringkali terdapat kesalahan persepsi mengenai dakwah ini. Dakwah  masih diidentikan dengan ceramah saja yang tentunya dinilai membosankan. Namun sebenarnya, dakwah itu bukan hanya ceramah di mimbar masjid semata, tapi dakwah yang paling efektif adalah dengan perbuatan nyata. Menurut sebuah penelitian, perkataan itu hanya mempunyai pengaruh 7%, nada bicara berpengaruh 38 % dan sisanya adalah bahasa tubuh yaitu berupa tindakan atau perilaku yang nyata. Dakwah yang paling pokok adalah mendakwahi diri sendiri. Orang yang sibuk memperbaiki diri sebenarnya juga turut memperbaiki orang lain. Tekadkan setiap bertemu dengan orang lain harus menjadi jalan dakwah.
    Selain harus saling mewasiati dalam kebenaran, sesama muslim juga harus saling menasehati dalam kesabaran. Rahasia sabar dalam menjalani berbagai ujian hidup dapat diibaratkan seperti orang yang sedang puasa. Orang yang berpuasa senantiasa sabar dalam menahan godaan berbagai hidangan yang menggoda selera ataupun menahan diri dari hal-hal yang negatif karena ia tahu adzan magrib pasti segera tiba dan menjadi kemenangan yang indah untuknya dalam menahan segala godaan yang ada. Maksudnya, orang sabar itu kuncinya harus yakin bahwa segala sesuatu akan ada akhirnya. Tidak mungkin hidup selalu diwarnai oleh penderitaan. Semua siklus kehidupan akan silih berganti, ada senang pasti ada sedih, malam pasti ada siang, hujan pasti ada terik, dan pergantian yang lainnya.
    Mencari ilmu juga harus sabar, yaitu dalam hal menjaga niat. Niat mencari ilmu harus senantiasa dijaga hanya karena mencari ridha Allah. Kita harus sabar dan menahan diri untuk tidak menodai niat tersebut untuk hal-hal yang lain, seperti ingin mendapat pujian atau penghargaan dari manusia.
    Berbicara mengenai untung dan rugi, dibawah ini akan disebutkan beberapa golongan orang yang paling beruntung jika melakukannya dan tentu saja akan menjadi golongan orang yang rugi jika tidak melakukannya. Golongan tersebut adalah mereka yang didoakan oleh malaikat karena amalan yang mereka kerjakan. Tentu saja hal yang sangat luar biasa beruntung jika kita menjadi salah satu dari orang-orang yang didoakan malaikat dan rugi jika tidak teramasuk di dalamnya. Orang-orang yang didoakan oleh malaikat adalah:
1. Orang yang beriman dan bertobat serta mengikuti jalan Allah (Q.S Ghafir: 7-9)
2. Orang yang tidur dalam keadaan suci (H.R ibnu hiban)
3. Orang yang duduk menunggu shalat (H.R Muslim)
4. Oang yang salat di saf terdepan (H.R Abu Daud)
5. Orang yang menyambung saf kosong ( H.R Ahmad, Ibnu Maja, ibnu khuzaimah, ibnu hiban, al-hakim)
6. Orang yang mengucapkan amin ketika imam selesai membaca Al-Fatihah (H.R Bukhori)
7. Orang yang duduk di tempat shalat setelah selesai shalat (H.R Ahmad)
8. Orang yang shalat asar dan subuh berjamaah
9. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang di doakan (H.R Muslim)
10. Orang yang berinfak (H.R Bukhori dan Muslim)
11. Orang yang makan sahur (H.R Ibnu Iban dan Tabrani)
12. orang yang mengunjungi saudara seiman dan menyambung silaturahmi
13. Orang yang mengajarkan kebaikan (H.R Tirmizi )
14. Orang yang mendatangi dan duduk di majelis ilmu (H.R Tabrani)
    Demikianlah penjelasan mengenai untung dan rugi menurut timbangan Allah. Apa yang terjadi dalam hidup kita yang menurut kita jelek belum tentu merupakan hal yang selalu merugikan. Mungkin saja Allah justru memberikan kita keuntungan melalui kejadian pahit tersebut.

sumber: kajian ma'rifatullah bersama  K.H Abdullah gymnastiar ( Kamis, 22 Januari 2015)



Komentar

Popular post

makalah emotional intelligence

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang             Kecerdasan intelektual seringkali menjadi ukuran sebagian besar orang untuk meraih kesuksesan. Banyak orang berpikir, dengan kemampuan intelektual yang tinggi, seseorang bisa meraih masa depan yang   cerah dalam hidupnya. Tidak heran, banyak orang tua selalu menekankan anaknya untuk meraih nilai sebaik mungkin agar kelak memiliki masa depan yang cemerlang. Sistem pendidikan di negara kita yang lebih menekankan pada prestasi akademik siswa atau mahasiswa juga semakin mendukung argumen tersebut. Padahal kenyataannya, kecerdasan intelektual bukanlah hal mutlak yang dapat menjamin kesuksesan seseorang.             Mungkin kita sering bertanya-tanya mengapa orang yang ber-IQ tinggi justru banyak yang mengalami kegagalan dalam karirnya. Sedangkan orang yang ber-IQ sedang justru dapat lebih sukses dari orang yang ber-IQ tinggi. Hal itu disebabkan karena ada satu kecerdasan yang lebih berpengaruh dalam menentukan kesuksesan seseoran

BOOK REPORT FILSAFAT MORAL

BAB   I PENDAHULUAN 1.1   Identitas Buku Judul buku       : Filsafat Moral Penulis                : James Rachels Cetakan              : ke enam Tahun terbit      : 2013 Penerbit              : Kanisius, Jl. Cempaka 9, Deresan, Yogyakarta 55011 Halaman             : 394 lembar Harga                 : Rp. 52.000,00 Penerjemah       : A. Sudiarja 1.2   Latar Belakang Penulisan Persoalan-persoalan amoral dewasa ini dinilai semakin memprihatinkan. Banyak kalangan masyarakat yang berperilaku melawan aturan-aturan moral. Aturan yang semula ditaati demi terciptanya keteraturan sosial, kini dengan mudah ditentang oleh banyak kalangan. Perbuatan amoral seolah menjadi hal lumrah di masyarakat. Keteraturan sosial semakin jauh dari harapan. Perubahan zaman yang diwarnai dengan arus globalisasi dan modernisasi merubah segala etika dan aturan moral menjadi sesuatu yang kuno, sehingga banyak kalangan yang meninggalkannya. Degradasi moral yang melanda generasi m

Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan

A.     Pendahuluan Bahasa merupakan   alat komunikasi yang penting   agar manusia dapat saling berinteraksi dan berbagi informasi dengan manusia yang lain. Bahasa ada yang digunakan secara lisan, adapula yang digunakan dalam bentuk tulisan. Bahasa melengkapi anugerah yang diberikan Tuhan kepada manusia. Melalui bahasa, manusia dapat terus mengembangkan kemampuan menalar yang dimilikinya. Kemampuan menalar tersebut sangat penting untuk mengembangkan kemampuan manusia agar terus berkembang kearah kemajuan. Hal itulah yang membuat perkembangan manusia cenderung dinamis. Mengingat pentingnya bahasa dalam kehidupan manusia, maka penggunaan bahasa harus benar agar dapat dimengerti oleh manusia lain dan tidak menimbulkan kesalah pahaman, terutama dalam penggunakan bahasa tulisan. Dalam menulis, manusia tidak bisa sekehendak hati, tetapi harus mematuhi aturan-aturan yang berlaku. Di Indonesia, aturan menulis harus sesuai dengan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Penetapan atur